Kukerta Punya Cerita

20141216_162431

Bismillahirohmanirohim..

Dimana harus kucari sebuah ruang besar untuk mampu menampung semua kenangan itu. Kenangan yang padanya aku berjanji tidak akan pernah melupakannya. Kenangan yang padanya aku berterimakasih karena pernah menghampiriku. Kenangan yang darinya aku belajar banyak hal. Ini bukan tentang kenangan yang terlalu manis hingga membuat candu atau kenangan yang begitu pahit membuat enggan mengulang. Bisa dibilang percampuran sempurna antara rasa manis dan pahit yang membuat tak bisa lepas darinya. Minimal selalu ingin mengingatnya karna keseimbangan rasa yang dihadiahkannya.

Pertama kali dalam hidupku, aku memulai sebuah perjalanan yang mengharuskan aku menjalani kehidupan di tempat lain terpisah dari mereka yang selama ini menemaniku. Pertama kali dalam hidupku, aku diharuskan merasakan hidup para perantau yang haus akan ilmu. Ya para perantau yang haus ilmu yang memaksa diri mereka untuk selalu belajar dan belajar ditiap nafas yang mereka hembuskan. Dari awal aku sudah berjanji untuk menjadikan perjalanan ini sebagai ladang untuk memanen ilmu, memanen pengalaman, dan memantapkan jati diri. Entahlah dari mana semua keyakinan itu bermunculan dalam kepala. Mungkin karena aku tidak pernah menyadari dari mana keyakinan itu berasal, pada akhirnya akupun tidak bisa menahan keyakinan itu untuk terus bertahan dalam diri. Mendekati hari keberangkatan kayakinan itu mulai pudar digantikan oleh rasa takut yang entah dari mana asalnya dan entah apa alasannya.

Menimbang-nimbang rasa takut tentu tidak akan membuatmu lebih maju, dan tidak ada jalan mundur untuk kasus satu ini. Hari keberangkatan tiba, bekal perjalanan telah tersusun rapi beserta keyakinan yang masih coba aku munculkan kembali. Dengan perasaan yang entah apa namanya mobil-mobil pembawa para perantau mulai meninggalkan titik awalnya berhenti, titik dimana aku meninggalkan diriku dan semua embel-embel tentang AKU. Sekarang yang terbawa hanya seorang perantau yang ingin belajar.

Aku masih ingat dengan jelas apa warna yang cocok untuk mewakili suasana hatiku saat perjalanan “Abu-Abu” antara putih keyakinan yang bercampur hitam ketakutan. Aku ingat aku berusaha tetap menjadikannya putih sebisa mungkin, aku berbicara pada diriku dalam perjalanan “Jangan pergi dengan perasaan kehilangan dan sedih, sebaliknya pergilah dengan rasa rindu yang mendalam hingga disana kau menjalaninya dengan perjuangan akan perjumpaan yang dinanti bukan melewati waktu dengan penantian yang menyayat hati. Aku sedang berjuang untuk diperjuangkan, menata hati, menata sikap dan kembali menjadi lebih baik.”

Sampai dilokasi perantauan…

Aku dan ke-15 teman-teman seperjuanganku, 15 anak manusia yang nanti akan memenuhi cerita-cerita ini. 15 anak manusia yang membuatku binggung mau meletakkan kenangan mereka dimana hingga aku tak pernah lupa. 15 anak manusia yang berjuang bersama, saling menjaga, saling berjuang, walau tak jarang saling selisih paham.

Sekarang izinkan aku mengingat kembali awal pertemuan dengan 15 anak manusia ini. Yang aku ingat lingkaran pertama. Lingkarang pertama aku bisa melihat mereka semua satu persatu dan tau nama mereka satu persatu. Selanjutnya makan pertama, makanan khas anak rantauan “Nasi Bungkus”. Menu makanan khas anak rantauan lainnya 6T (Tahu, Tempe, Teri, Toge, Telor, Terong).

Berbeda artinya saling melengkapi yang juga bermakna saling bertentangan, tergantung mau melihat dari sisi mana. Itulah yang bisa aku lihat dari 16 karakter anak manusia yang bersatu ini.

Ada yang pintar masak, ada yang pintar buat ketawa, ada yang selalu diam, ada yang ngajak ngomong serius tapi dianya selalu ketawa, ada yang selalu jadi bahan ejekan, ada yang rajin bilang “rindu”, ada yang rajin bilang “jadilah”, ada yang kerjaanya main game online terus, ada yang mendadak suka drama korea, yang pasti semua mendadak paham dengan yang namanya “batu cincin” hha J.

Aku bingung menuangkan semua visual kenangan itu dalam sebuah cerita, aku hanya berharap aku memiliki ingatan yang kuat untuk mengingat mereka semua beserta segala jenis kenangan yang mereka hadiahkan untukku.

Aku menemukan nama panggilan untuk mereka bukan lagi 15 anak manusia namun keluarga “family 06” sebuah angka kenangan. Terimakasih sudah menghadiahkan sebuah kenangan dalam catatan hidup seorang Ridani Fitri. Terimakasih sudah menginspirasi dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kalian miliki. Terimakasih atas peluh dan keringat yang bercucuran kebumi. Terimakasih untuk emosi-emosi yang terkendali. Terimakasih untuk tawa yang menggetarkan batanghari. Terimakasih sudah sama-sama berjuang membangun cerita baik. Terimakasih sudah berjuang sampai akhir.

Kini aku tau warna apa yang kubawa bersama hatiku saat kepulangan “Pelangi” karena ada badai yang kami lalui untuk menuai kenangan indah ini, ada banyak warna yang mengisi kenangan ini, yang membuatku candu untuk mengingatnya.

Sukses selalu untuk Family 06.

Posko 06 KUKERTA Universitas Jambi Desa Sukaramai Kecamatan Muaro Tembesi Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi Tahun 2014.

Si bungsu Posko #NN

20141203_175813

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s