Hati-hati HATI TYPO

Bismillahirahmanirahim.
Assalamualaikum wr.wb.
Lama tidak menarikan jari untuk sekedar membagi apa yang dialami kembali memanggil saya untuk sedikit menuangkan kembali sepotong pembelajaran yang mampu saya bawa pulang dari guru kehidupan. Semoga berkenan.

Entah kenapa mungkin bawaan darah muda, kali ini ingin sedikit berbagi tentang rasa yang sering disimbolkan dengan warna pink, heem taulah ya apa itu. Yaa cinta atau kasih sayang atau apalah namanya yang jelas perasaan cenderung kepada sesuatu atau seseorang yang terkadang mampu membuat kita terbang melayang dan tidak jarang juga menghempaskan kita sampai kedasar.

Belakangan saya sering melihat fenomena anak manusia yang begitu tergila-gila dengan yang namanya cinta. Mulai dari cinta anak remaja, dewasa sampai romansa orang-orang tua. Yang menggelitik para remaja dalam mengartikan perasaan cenderungnya ini terkadang sangat berlebihan. Bilang gak bisa hidup tanpa dialah, aku tanpanya bukan apa-apalah sampe yang selalu lengket bak prangko dan amplop. Layaknya mereka perlu merenungkan kata-kata ini “Bahwa cinta bukan hanya sekedar tentang bagaimana kita mencari tempat dihatinya, namun juga tentang bagaimana kita bisa melindunginya”. Melindungi disini bukan bearti harus selalu bersama bak bodyguardnya. Kalo mau melihat lebih jauh bukankah bukan hanya raganya saja yang butuh dijaga ? Bagaimana dengan hati dan imannya yang bisa saja ternoda dengan kehadiran sang pencari cinta yang tidak tepat ? Bagaimana dengan kehormatannya ? (Kehormatan disini bisa dipandang lebih luas dengan nama baik dan citra diri).

Bukan bearti saya mengatakan bahwa orang yang jatuh cinta itu salah (munafik bener saya) karena agamapun tidak memandang itu hal yang salah selama dalam koridor yang diatur oleh agama.

Ada lagi yang menggelitik fikiran saya ketika ada yang megatakan “Pokoknya aku maunya dia, aku gak bisa kalo selain dia, dia yang terbaik untukku” pakai kadar apa mas/mbak ngukurnya dia yang terbaik ? Hati-hati merasa ntar hatiny TYPO salah nulis nama ujung-ujungnya merana.
Yang tau yang terbaik untuk kita cuma Sang Maha Pencipta, misalkanpun kita tau dia yang terbaik untuk kita bukankah sekarang saatnya kita melihat kualitas diri lagi apakah kita sudah yang terbaik untuknya jika memang benar kita menginginkannya ?

Bukankah bentuk dan bukti tertinggi dari cinta adalah memberi tanpa harap kembali ? Lantas apa yang sudah kita usahakan untuk diberikan (kualitas diri sudah seberapa baik) kepada yang kita akui terbaik untuk kita ? Bukankah jika ingin yang terbaik harus menjadi yang terbaik pula ??
Perkara hati memang sulit ditebak, maka berhati-hatilah menjaga hati dan meletakkan hati🙂
“Jangan takut melepaskan merpati terbaik, jika ia memang terbaik kesangkar jua dia akan berpulang. Kepadamu jua dia akan terbang”

Semoga Bermanfaat #NN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s