Menjemput Bukan Dijemput (Hidayah)

image

Bissimllahirohmanirahim.
Assalamualaikum wr wb.

Dipagi yang dingin izinkan saya berbagi sedikit kehangatan dalam sebuah rangkaian kata yang semoga Allah Ridho dengan niat penyampaiannya🙂 aamiin.

Saya teringat akan sebuah kata bijak yang sangat indah yang mengatakan “Janganlah dirimu mengutuk gelap sedang tak pernah coba dirimu mencari terang, ketimbang mengutuk gelap layaklah nyalakan lilin untuk ciptakan terang”
Dalam kata-kata di atas mengandung makna bahwa jangan hanya mampu mengkritik atau mengeluhkan keadaan sedang tidak BERUSAHA untuk merubahnya. Hal ini kemudian mengingatkan saya kembali akan statment-statment sebagian besar orang saat ini ketika ditanya kenapa tidak melakukan ini, kenapa tidak memakai ini dan itu, kenapa masih melakukan hal yang dilarang tersebut, akan memberi jawaban “Saya belum dapat hidayah”.

Hidayah itu laksana cahaya diujung terowongan, kita berada dan sedang berjalan di dalam terowongan yang gelap, mengutuk gelap yang menyelimuti kita namun kita tidak melangkahkan kaki menuju cahaya. Mau cahaya yang menghampiri ? Sedanga dia berada diujung jalan, tidak bisa maju ataupun mundur, ia bersifat tetap.

Allah berfirman dalam surah Al-Kahfi (18): 29 yaitu “Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”
Allah menciptakan manusia melebihi makhluknya yang lain berupa akal, akal selayaknya mampu melihat mana yang haq mana yang bathil.
“Allah menurunkan Islam untuk manusia yang telah dibekali dengan akal dan dengan akal itulah ada yang menjadi Mukmin dan ada yang menjadi kafir dan dengan akal itu Allah juga memberi hidayah dan kesesatan” ungkap Ust. Felix dalam bukunya Beyond The Inspiration.

Kembali keperumpamaan terowongan diatas bahwa kita manusia diberikan kemampuan untuk memilih yang haq dan yang bathil, kita diberikan akal untuk memilih tetap dalam gelap atau melangkah menuju cahaya. Terus gimana dengan pendapat yang berkata bahwa dirinya belum mendapatkan hidayah ??

“Pada saat manusia menggunakan akalnya untuk mengakses wahyu Allah maka diberikanlah kepada manusia itu taufiq dalam menjalankan hidayah dari Allah Swt” ungkap Ust felix dalam bukunya.
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil, untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir” (QS. Al-Mu’min [40]: 53-54)

Untuk mereka yang mengatakan “saya belum dapat hidayah atau Allah belum memberi saya hidayah” bolehkah saya bertanya kepada mereka “apakah anda telah menjemputnya ? Apakah anda telah berniat dan berusaha untuk mencarinya ?” Kembali kepada terowongan tadi jika kita ingin cahaya melangkahlah kearah cahaya, jika kita ingin mendapat hidayah bertindaklah, mencarilah, belajarlah yang akan memberikan hidayah.
Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai rahmayan lilalamin rahmat bagi seluruh alam kemudian telah diutus-Nya Rasulullah sebagai penyampai kabar gembira bahwa hidayahnya, petunjuknya telah datang, sekarang pertanyaannya MAU atau TIDAK untuk menjemputnya🙂
Wallahualam.

Semoga selalu dilembutkan hati-hati ini untuk menerima hidayah dari-Nya. Selalu dikuatkan tekad dan usaha untuk mencari ilmu agar bertambah keimanan kepada-Nya.
Dan semoga Allah Yang Maha Pembolak Balik Hati senantiasa mengarahkan hati kita menuju cahaya kasih-Nya.
Aamiin.

#NN #JustShare

Posted from WordPress for Android

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s