Lidahmu menari Amalmu berlari

Bismillahirahmanirahim.
Assalamualaikum wr wb.

Lama tidak menuangkan kata dalam cerita ternyata membuat hati begitu rindu untuk sekedar membagi apa yang mata lihat dan apa yang hati rasa, semoga bermanfaat🙂

Alkisah (jadi seperti mendongeng hemm). Alkisah saya mengenal seorang lelaki, yang saya kenal pendiam dan pemalu, paling tidak itulah penilaian saya yang melekat pada pribadinya, tentu itu beralasan karena tiap saya bertemu jarang sekali saya mendengar suaranya dan mendengar bahak-bahak tawanya.

Belakangan saya mulai memahami dan mengerti bahwa ada benarnya sifat yang dimiliki oleh lelaki tersebut. Saya mendapati bahwa dia bukan lelaki pendiam dan pemalu dikala ada sesuatu yang benar dan penting yang memang harus disampaikan, dengan lantang dia akan bersuara. Akhirnya saya berpendapat bahwa lelaki ini bukan pendiam, namun menahan lisannya akan ucapan yang tidak berkepentingan. Subhanallah.

Terasa tersentak ketika mengingat Rasulullah pernah berkata bahwa penghuni neraka kebanyakan dari kaum wanita yang dikenal sangat pandai menggunakan lidahnya yang ternyata lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Teringat juga bahwa Rasulullah berpesan untuk menjaga lidah kita.

Alkisah (alkisah lagi -_-) tiap mentari terbangun dan jiwa-jiwa berseru menyambut mentari dengan bersujud kepada-Nya, tiap tiap anggota tubuh manusia berpesan, mulai dari mata, telinga, tangan, kaki dll kepada mulut agar menjaga kata yang akan dikeluarkannya. Mata memperingatkan “diakhirat kami bergantung pada apa yang dirimu ucapkan lidah, maka berhati-hatilah”

Seorang bijak diamnya adalah berfikir sedang bicaranya adalah nasehat. Seorang bijak akan lebih banyak diam dan berfikir kemudian buah dari fikirannya disampaikan dengan lisan yang lembut. Seharusnya seperti itulah manusia dalam berkata karena hakikatnya manusia bukanlah tengkorak tanpa otak.
Mata diciptakan dua, telinga dua, tangan dua, kaki dua, bahkan otak terdiri dari dua bagian kanan dan kiri, namun kenapa mulut hanya satu ? Karena kita disuruh untuk lebih banyak berbuat ketimbang berkata🙂

Ini hanya sedikit goresan kata ditengah kerinduan makna, semoga mampu memberikan pelajaran bagi sesiapa yang membacanya terlebih sebagai pengingat bagi yang menulisnya🙂

Jika bisa tumbuh bersama kenapa begitu egois untuk tumbuh sendiri.
Jika bisa melangkah bersama kenapa begitu kikir untuk melangkah bersama.
Jika dirasa ada manfaatnya tulisan diatas boleh dibantu dibagikan kepada yang lain agar tersebar manfaatnya.
Jika dirasa ada kekuarangannya (pasti banyak) boleh diberikan saran agar bisa bertumbuh.

Terimakasih.
#NN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s